Social Icons

twitterfacebookgoogle plustumblrrss feedemail

Kamis, 19 April 2012

Kelompok Tutorial dari Masa ke Masa

 

Selama masa pembelajaran di Pendidikan Dokter UGM, saya sudah beberapa kali berganti-ganti kelompok tutorial. Setiap kelompok memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bersama kelompok-kelompok inilah sebagian besar aktivitas pembelajaran di FK saya jalani, mulai dari tutorial, skills lab, praktikum, field visit, mengerjakan tugas kelompok, jaga puskesmas, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Tak terasa, saya sudah meninggalkan hiruk pikuk masa-masa kuliah S1 saya menuju masa-masa koass yang tentunya lebih sibuk lagi. Stase pertama yang akan saya jalani adalah stase anestesi. Semoga saya bisa menjalani koass dengan lancar serta mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat banyak sebagai bekal saya menjadi dokter nanti. Semoga juga kelompok koass saya dapat memberikan dampak positif bagi masing-masing anggota kelompok dan dapat selalu kompak sampai berakhirnya dua tahun masa rotasi klinik.

Berikut kelompok tutorial saya dari tahun pertama sampai lulus ditambah kelompok koass saya:

Senin, 16 April 2012

Penghuni Wisma Darush Shalihin dari Masa ke Masa



Wisma Darush Shalihin (wisma DS) adalah sebuah wisma muslim yang berada di bawah kepengurusan Divisi Wisma Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA). Wisma DS terletak di Pogung Dalangan No. 37A RT 10 RW 50 Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta.

Wisma DS sendiri memiliki dua lantai dengan 11 kamar. Enam kamar di bagian utara dan lima kamar di bagian selatan.  Masing-masing kamar berukuran sekitar 3x4 m dengan kamar mandi dalam.

Wisma DS pertama menerima penghuni yaitu ketika memulai tahun ajaran 2008/2009. Saya sendiri baru tinggal di wisma DS setahun setelahnya yaitu saat saya memasuki tahun ke-2 masa perkuliahan saya di UGM tepatnya saat tahun ajaran 2009/2010. Jadi saya tidak mengetahui secara pasti siapa saja penghuni wisma DS tahun 2008/2009. Berikut penghuni wisma DS tahun 2009-2012:

Selasa, 03 April 2012

Perbuatan-Perbuatan yang Diperbolehkan dalam Shalat



Banyak hal yang dianggap membatalkan shalat atau dianggap tidak boleh dilakukan dalam shalat padahal ternyata hal-hal tersebut boleh dilakukan. Berikut ini adalah hal-hal yang diperbolehkan oleh syari’at untuk dilakukan ketika shalat dan tidak membatalkan shalat:

1.     Menggendong anak kecil ketika shalat
فعن أبي قتادة ((أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يصلي و هو حامل أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم فإذا سجد وضعها و إذا قام حملها))
Dari Abu Qatadah, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dan dia menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri beliau menggendongnya lagi.” 1

2.     Sedikit berjalan karena ada kebutuhan
فعن عائشت قالت: ((كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي في البيت, و الباب عليه مغلق, فجعت فاستفتحت فمشى ففتح لي, ثم رجع إلى مصلاه, ووصفت أن الباب في القبلة))
Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di rumah, dan pintu dalam keadaan terkunci. Kemudian aku datang dan meminta dibukakan pintu, lalu Rasulullah berjalan dan membukakan pintu untukku. Kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya, dan aku mengetahui bahwasanya pintu berada di arah kiblat.”2

3.     Mencegah orang yang hendak lewat di depannya ketika shalat
Ketika sedang shalat, diperbolehkan menjulurkan tangan untuk menghalangi orang yang hendak melintas di depan kita. Sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Sa’id al-Khudri:
((إذا صلى أحدكم إلى شيء يستره من الناس, فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه, فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان))
“Jika seseorang diantara kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dengan manusia, kemudian seseorang hendak lewat di antara kedua tangannya (di hadapannya) maka cegahlah orang itu. Jika dia menolak (masih tetap ingin lewat), maka perangilah dia karena sesungguhnya dia adalah setan.”3

Jumat, 27 Januari 2012

Ketika Galau Sedang Melanda Hati



Ketika galau sedang melanda hati...
Hanya kepada Allah lah aku kembali.

Ketika stress sedang menggelayuti jiwa...
Hanya kepada Allah lah aku berserah diri.

Ketika pikiran sedang kacau tak menentu...
Hanya kepada-Nya lah diri ini mengadu.

Ketika raga ini lelah dengan segala rutinitas...
Hanya kepada-Nya lah hati ini menuju.

Ketika merasa tidak mampu berbuat apa-apa...
Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan.

Ketika merasa tidak berguna...
Allah selalu ada untuk kita.

Ketika kehilangan semangat juang...
Allah lah sebaik-baik penyemangat jiwa.

Ketika terjatuh...
Allah lah yang membantu kita kembali berdiri.

Ketika kehilangan arah...
Allah lah yang akan membimbing langkah kita.

Ketika berbuat dosa...
Segeralah bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

Ketika musibah menimpamu...
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

Ketika malas melanda...
Ingatlah janji Allah bagi hamba-Nya yang bertaqwa.


Allahumma inni as’alukal huda wat tuqa wal ‘afafa wal ghina...

 
Malam hari, 4 Rabi'ul Awwal 1433 H, 27 Januari 2012 @Wisma Darus Shalihin
Artikel rahadianfaisal.blogspot.com


Kamis, 29 Desember 2011

Bapak H (Sebuah Cerita tentang Rasa Sakit, Kesabaran, Dokter, dan Dakwah)



Tidak terasa saya sudah memasuki blok terakhir dalam perkuliahan S1 saya, yaitu blok 4.3 Elective, di mana mahasiswa bisa memilih sendiri blok mana yang akan diikuti sesuai dengan minat. Pada term pertama, saya memilih Pain Management. Kenapa? Karena yang sering dikeluhkan pasien ketika mengunjungi dokter adalah nyeri. Jika kita bisa melakukan tata laksana nyeri dengan baik, maka pasien pun akan merasa senang dengan pelayanan kita.

Pagi hari, Kamis, 29 Desember 2011, saya dan kelompok saya mendapatkan tugas untuk melakukan Pain Assessment di RS Dr. Sardjito. Sebelumnya kami tutorial terlebih dahulu. Tutorial dilakukan di Bagian Saraf, karena tutor dan dosen pembimbing Pain Assessment kami diampu oleh dokter yang sama, yaitu dr. K, M. Sc., Sp. S.

Setelah sekitar 1 jam lebih tutorial, barulah kami menuju ke Instalasi Rawat Inap Saraf untuk melakukan Pain Assessment. Kami dan dokter K menuju ruang Dahlia 2, masuk ke salah satu kamar yang berisikan 6 bed. Dokter K pun menghampiri salah satu bed yang di sana sedang terbaring seorang bapak. Dokter K memulai obrolan dengan salah satu pasien di kamar tersebut menggunakan bahasa Jawa. Dokter K memulai obrolan dengan menanyakan kabar dan sedikit berbasa basi, kemudian barulah dokter K memperkenalkan kami dan meminta persetujuan pasien tersebut untuk ditanya-tanyai oleh kami. Alhamdulillah, bapak tersebut menyetujuinya.

Dokter K kemudian mempersilahkan salah satu dari kami untuk berbincang-bincang dengan pasien menanyakan keadaan sekaligus melakukan Pain Assessment kepada pasien tersebut. Seperti biasa, kami saling tunjuk siapa yang akan melakukannya. Saat itu, posisi berdiri saya paling dekat dengan pasien sehingga teman-teman akhirnya sepakat menunjuk saya. Okelah, saya pun menyanggupinya.

Saya mulai dengan berjabat tangan dengan bapak tersebut kemudian memperkenalkan diri. Tadinya saya hendak berbicara dengan bahasa Jawa, tapi tidak jadi. Saya sadar diri bahasa Jawa saya belum begitu lancar (kapan mau lancarnya kalau jarang dipakai?), jadi saya menggunakan bahasa Indonesia saja daripada informasi yang didapat setengah-setangah karena kesulitan komunikasi. Syukurlah pasien tersebut juga bisa berbahasa Indonesia.

Bapak tersebut memberitahukan namanya setelah saya tanya, nama beliau bapak H usianya 59 tahun. Saya kemudian melanjutkan berkomunikasi dan melakukan anamnesis seperti biasa, seperti yang diajarkan di skills lab. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sambil mencatat jawaban dari bapak H. Bapak H menjawab setiap pertanyaan dari saya dengan sangat kooperatif.

Kurang lebih percakapan saya dengan bapak H seperti ini: